Shalahuddin Al Ayyubi, Sang Gagah Berhati Mulia

Oleh admin • Jun 29th, 2008 • Kategori: Jejak

Ia lahir pada tahun 1137 M. Mendapat latihan awal dari ayahnya yang termasyhur -Najmuddin Ayyub- dan juga pamannya yang berjiwa ksatria -Asaduddin Sherkoh-. Shalahuddin adalah pahlawan perang salib yang menjadi buah bibir tidak hanya di kalangan Islam, tetapi juga di kalangan Kristen, sebab di balik kegagahannya tersembunyi kelembutan dan kasih sayang kepada seluruh manusia apapun agamanya.

Seperti yang diketahui oleh banyak orang, Perang Salib adalah perang yang paling ganas sepanjang sejarah manusia, dalam perang itu ada badai kefanatikan liar Kristen Eropa menumpahkan kemarahannya kepada orang-orang Asia Barat. “Perang Salib”, kata seorang pengarang Barat, “Merupakan salah satu episode paling gila dalam sejarah.” Kaum Kristen menghasut diri mereka sendiri untuk melakukan peperangan melawan pengikut Nabi Muhammad dari satu ke lain ekspedisi selama hampir 3 abad. Pada masa itu kata Hallam -pengarang Barat itu- kalau ada tentara salib memikul tiang salib, maka ia berada dalam perlindungan Gereja dan dibebaskan dari semua pajak serta sekaligus mendapat kebebasan untuk melakukan dosa. Tentara Salib memperoleh sukses awal dengan menaklukkan bagian terbesar dari Syiria dan Palestina, termasuk kota suci Yerussalem. Ketika penghancur kota Islam Antioch, Mill, seorang sejarawan Kristen memberikan kesaksian atau bukti tentang pembantaian penduduk Islam. Ia menulis : “Martabat, Usia, keputusasaan pemuda, kecantikan kaum wanita tidak dihiraukan oleh bangsa Latin yang biadab itu. Rumah tak dapat lagi menjadi tempat berlindung dan suasana masjid berubah, tentara Salib menduduki kota-kota di Syiria, membantai penduduknya dengan darah dingin, dan membakar sampai jadi abu seluruh benda seni dan pengetahuan lain yang tak ternilai harganya berisi lebih dari 3 juta jilid bahan bacaan. Jalan-jalan digenangi darah.” Syukurlah tepat pada bagian kedua abad ke-12 Masehi, ketika tentara salib berada pada puncak kebengisan dan raja-raja Jerman, Perancis, Richard ‘The Lion Heart’ telah menguasai masing-masing medan untuk menaklukkan tanah suci Yerussalem, tentara salib berhadapan dengan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi, seorang prajurit yang mampu memukul mundur pasukan Kristen yang datang bergelombang.

Saat pembantaian di Yerussalem, tanah wakaf dari khalifah Umar Ibnul Khatab itu kata Mill Raymond d’Agiles : Saya menyaksikan di bawah serambi masjid yang melengkung itu genangan darh mencapai keda;aman selutut dan mencapai tali kekang kuda. Lalu kata Mill : Rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan kepada kaum muslimin, orang-orang yang dikalahkan itu diseret ke tempat-tempat umum dan dibunuh, semua wanita yang sedang menyusui, anak-anak gadis dan anak-anak laki-laki tubuhnya dikoyak-koyak, tak ada hati yang lebih dalam keharuan atau yang tergerak untuk melakukan kebajikan melihat peristiwa mengerikan ini.

Sebaliknya, ketika Shalahuddin merebut Yerussalem pada tahun 1187 M, ia memberi ampunan kepada orang-orang Kristen yang tinggal di kota, hanya orang-orang yang pernah bertempur dan pejuang-pejuang kristen yang diminta meninggalkan kota, setelah membayar tebusan yang sama nilainya dengan yang pernah mereka ambil. Bahkan sering Sultan memberikan uang tebusan dari sakunya sendiri, di samping memberi mereka ongkos transportasi.

Wahai, terbuat dari apakah hati Shalahuddin? Betapa jiwa pemenangmu tidak menindas, tetapi memberi rahmat.

(Jamil Ahmad, “Seratus Muslim Terkemuka”. Pustaka Firdaus, hal. 399)

Tag:

Beri Komentar