Hasan Al Banna, Sang Da’i di Kedai-kedai Kopi
Oleh admin • May 9th, 2008 • Kategori: JejakTibalah saatnya untuk praktek setelah sekian lama menggeluti dunia keilmuwan. Saya menawarkan kepada teman-teman agar keluar untuk menyampaikan khutbah di kedai-kedai kopi. Teman-teman merasa heran seraya berkomentar, “Para pemilik kedai kopi tentu tak akan mengizinkan hal ini. Mereka pasti akan menolaknya, karena dapat mengganggu pekerjaan mereka. Di samping itu, kebanyakan dari para pengunjung kedai kopi adalah orang-orang yang hanya memikirkan apa yang sedang mereka nikmati. Bagaimana kita mesti berbicara tentang agama dan akhlak di hadapan orang-orang yang hanya memikirkan kesenangan duniawi seperti yang sedang mereka nikmati itu?”
Hasan Al Banna mengalami sikap skeptis (ragu-ragu) teman-temannya. Apakah beliau akhirnya mundur?
Saya berbeda pendapat dengan teman-teman ini. Saya meyakini bahwa kebanyakan dari orang yang berada di kedai kopi siap mendengarkan nasihat dari pihak lain, termasuk dari kalangan aktivis masjid, sebab kegiatan ini merupakan sesuatu yang unik, langka, dan baru bagi mereka. Kita tidak perlu menyampaikan sesuatu yang dapat melukai perasaan mereka. Kita harus menyampaikannya dengan metode yang tepat, dengan gaya bahasa yang menarik dan dalam waktu yang singkat.
Akhirnya, segala sesuatu harus dibuktikan dengan amal.
Hasan Al Banna dan teman-temannya mengunjungi beberapa kedai yang terletak di kompleks Shalahuddin, kemudian di kedai-kedai kopi yang tersebar di wilayah Thulun hingga melalui jalan berbukit sampai di jalan Salamah dan jalan Sayidah Zainab. Hasan Al Banna memperkirakan ia menyampaikan ceramahnya lebih dari 20 kali, setiap ceramah menghabiskan waktu 5-10 menit.
Ternyata para pendengar sangat takjub, mereka semua terdiam mendengarkan ceramah dengan seksama. Para pemilik kedai yang mulanya kurang berkenan setelah itu justru meminta agar ceramah lagi. Bahkan mereka meminta saya untuk tinggal barang sejenak dan minum-minum terlebih dahulu. Namun dengan halus saya menolaknya. Saya meminta maaf pada mereka karena tidak bisa memenuhi kemauannya dengan alasan sempitnya waktu. Kami memang telah berjanji pada diri sendiri untuk mengoptimalkan penggunaan waktu untuk Allah. Karenanya kami tidak ingin memanfaatkannya untuk orang lain, sikap kami ini ternyata memberi pengaruh yang cukup besar bagi jiwa mereka. Tidak perlu heran sebab Allah SWT tidak pernah mengutus seorang nabi atau rasul kecuali motto pertamanya adalah: “Katakanlah saya tidak akan meminta upah dari kalian atas dakwah ini”. Kesucian niat inilah yang memberi pengaruh yang positif dalam jiwa objek dakwah.
Tantangan, keraguan, bahkan intimidasi selalu ada dalam jalan menuju kemenangan, sebab itu adalah sifat dari kemenangan itu sendiri. Maka tengoklah beliau Hasan Al Banna yang memberi inspirasi kepada para mujahid dakwah agar menetapkan mental kompetitif pada pribadinya, selalu selamanya.
(Sumber: Memoar Hasan Al Banna)