Di Balik Romantisnya Bulan

Oleh admin • Jun 29th, 2008 • Kategori: IPTEK

Telah dekat datangnya waktu kiamatdan terbelahnya bulan. (QS. Al Qamar [54]: 1)

Majalah Royal Wings edisi Desember 2001 yang terbit di Yordania, memuat satu artikel menarik tentang bulan. Sudah sejak dahulu kala bulan menjadi simbol suasana romantis. Di siang hari matahari menyinari dengan terang manusia yang sedang bangun. Di malam hari, bulanlah yang memandikan manusia yang sedang tidur dengan cahayanya yang lembut. Sehingga tak heran jika bulan juga selalu dikaitkan dengan impian, misteri, dan alam bawah sadar. bulan dianggap memiliki daya magic, dapat mempengaruhi jiwa. Di dunia cinta kita dikenal istilah Pungguk merindukan bulan. Atau Di wajahmu kulihat bulan.

Dewi bulan menurut mitologi Romawi disebut Luna, sehingga dalam bahas Inggris orang yang kurang sadar disebut lunatic, tersihir bulan. Dalam Islam, kitab-kitab tafsir klasik dan fikih hanya mengulas fungsi bulan sebagai alat dalam menentukan awal musim haji dan bulan puasa. Padahal begitu pentingnya peranan bulan bagi manusia, sehingga Allah bersumpah Demi Bulan!. Ia menjadikan bulan sebagai salh satu nama surt dalam Al Qur’an. Selain itu, bulan disebut sampai 24 kali di dalam kitab suci Al Qur’an.

Pada hakikatnya fungsi bulan bukan sekedar untuk menghitung tanggal, sebagai daya pembangkit birahi yang memicu musim kawin binatang, atau hanya sebagai suasana romantis bagi sebagian manusia. Benda bulat yang mendominasi langit pada malam hari itu ternyata sangat mempengaruhi kehidupan manusia secara fisik. Bahkan lebih jauh lagi, kelangsungan hidup manusia di masa depan sangat bergantung pada bulan. Bulan yang mengitari bumi berdiameter 3476 km. Ini sangat besar jika di banding dengan bulannya planet lain, seperti Phobos dan Deimos, dua buah bulan yang mengitari planet Mars yang hanya berdiameter 27 km dan 15 km. Bahkan, bulan kita lebih besar daripada planet Pluto yang hanya berdiameter 2324 Km. Bulan berjarak “hanya” 385000 km dari bumi, sehingga merupakan benda langit besar yang terdekat. Dengan demikian, bisa diduga pengaruhnya terhadap bumi juga akan besar. Gaya tarik menarik antara keduanya telah memperlambat putaran bumi setiap tahunnya sebanyak 1,5/1000 detik. Di samping itu bulan juga menjauh dari bumi sebanyak 3,8 cm setiap 100 tahun. Para Ahli menghitung bahwa pada awalnya, bulan hanya berjarak 23.000 km dari bumi. Ini berarti pada masa yang akan datang, bulan akan semakin jauh dan akan tampak kecil di langit, sehingga tidak dapat lagi menutupi matahari di waktu gerhana. Gerhana matahari total yang bisa menjadikan siang hari gelap, tidak bisa lagi di alami manusia. Maha Suci Allah yang memerintahkan kita untuk Shalat Kusuf -Sholat Gerhana- mumpung masih ada gerhana. Juga nantinya bulan purnama tidak lagi sebesar sekarang, dan cahayanya juga semakin redup. Maha Benar firman Allah, “Dan (bila) cahaya bulan berkurang menghilang.”(QS. Al Qiyamah [75] : 8 )

Disedotnya kecepatan rotasi bumi oleh bulan mengakibatkan siang dan malam semakin lama semakin panjang. Akhirnya berhenti. Sebelah bumi siang terus menerus. Allah mengisyaratkan hal itu dalm Surat Al Qashash [28] ayat 71 “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat.’”

Dan pada ayat berikutnya -Surat Al Qashash ayat 72- Allah menanyakan bagaimana bila siang hari terus menerus sampai hari kiamat, “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat.’”

Artinya, keadaan seperti itu akan terjadi dan belum berarti kiamat. Sambil berotasi, bumi berevolusi mengelilingi matahari dalam sumbu yang miring kira-kira 24 derajat, yang menimbulkan pergantian musim di belahan utara dan selatan bumi. Karena kecepatan putaran bumi berangsur-angsur berkurang, sumbu kemiringan tadi tidak mutlak sejajar terus, tetapi sedikit bergoyang seperti gasing yang putarannya makin lambat. Dalam kurun 26.000 tahun, sumbu ke rah bintang Polaris di kutub utara akan nampak membentuk lingkaran kecil di langit, bukan suatu titik yang tetap. Memang putaran itu kecil, tetapi tetap saja sumbu bumi terbukti bergoyang. Goyangan ini ternyata diredam oleh adanya bulan yang mengitari bumi, sehingga tidak semakin membesar dan membahayakan. Subhanallah.

Planet kembaran bumi, Venus, walaupun ukurannya persis sebesar bumi kita, tidak mempunyai bulan yang menstabilkan goyangan sumbu rotasinya. Di planet itu iklim tidak teratur, keadaan atmosfer di sana sangat ekstrim bagi kehidupan. Temperatur siang hari melebihi 500 derajat Celcius, tekanan udaranya 80 kali dari tekanan di bumi, sungguh suatu kondisi yang sangat mematikan. Syukurlah ada bulan mengitari bumi kita, yang menetralisir goyngan secukupnya untuk menstabilkan iklim dan atmosfer sesuai daya tahan manusia. Selain itu, kita juga mengenal pengaruh gaya tarik bulan dalam pasang surut air laut yang pada ujungnya mempengruhi pola makanan dan perkembangbiakan makhluk hidup di laut dan di darat. Suatu pola yang akan sangat berbeda bila ukuran bulan lebih kecil atau lebih besar dari sekarang. Juga apabila jarak bulan lebih dekat atau lebih jauh dari sekarang. Maha Suci Allah yang telah menetapkan qadar -ukuran yang pas- untuk bulan demi kehidupan manusia dan makhluk lain di permukaan bumi.

“Dan bulan telah Kami tetapkan tempatnya…” (QS. Yaasiin [36] : 39).

Di masa depan, bulan juga menjadi harapan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Jumlah manusia di muka bumi akan mencapai 15 milyar di tahun 2050. Ketika itu, sumber daya alam dan daya dukung planet bumi akan sangat kewalahan menanggung beban manusia. Mencari tempat hijrah keluar angkasa, ke planet-planet lain yang layak huni adalah ikhtiar yang harus ditempuh. Namun kesulitan dalam perjalanan migrasi yang maha jauh itu adalah beratnya perbekalan yang harus dibawa, berupa makanan, udara, air, bahan bakar, dan peralatan. Lain halnya bila di bulan terdapat air, maka muatan yang harus dibawa akan jauh lebih ringan.

Sebelum ini, ekspedisi ke bulan dinyatakan negatif akan adanya air. Sampai pada bulan Maret tahun 1998, pesawat Lunar Prospector mendeteksi adanya air es berasal dari komet yang berada pada kawah di kutub utara dan selatan bulan. Diperkirakan sebanyak 6 milyar metric ton air es tertanam 45 cm di bawah pasir. Penemuan itu membuka harapan baru. Air es di bulan dapat digali dan dengan memisahkan oksigen dari hidrogen bisa diproses menjadi udara untuk bernapas, air bersih untuk minum, hidrogen untuk baterai, dan oksigen cair untuk bahan bakar roket. Air merupakan syarat mutlak yang bisa diproses untuk kelangsungan hidup manusia di angkasa. Ini berarti bulan bisa menjadi pos stasiun pertama, darimana penjelajahan lebih jauh ke luar angksa bisa dilakukan. Dari bumi tidak usah membawa beban berat lagi. Lalu dengan mendirikan lagi pos-pos berikutnya di bulan yang mengitari planet lain, jaringan “pompa bensin” di padang angkasa luar akan terbentuk bagi mendukung eksplorasi dan ekspansi manusia ke wilayah-wilayah lebih jauh lagi di alam semesta. Allah telah memudahkan bulan bagi manusia untuk perjalanan survival-nya.

“Dan telah dimudahkan bagimu bumi dan bulan.” (QS. Ibrahim [14]:33)

Shadaqallahul ‘azhiim.

Tag:

Beri Komentar